Walisongo Ada yang Keturunan Minangkabau?

Beberapa orang Walisongo diyakini mem­punyai garis keturunan Minangkabau. Kabar mengejutkan ini muncul setelah memperhatikan silsilah keturunan salah satu pen­diri Nahdlatul Ulama (NU), KH Ma’shum di Lasem Ka­bupaten Rembang, Jawa Tengah.

Hal itu disampaikan keturunan kelima dari Imam Bonjol, Hari Ichlas Majolelo Sati seusai pertemuan dengan tokoh Sum­bar, Azwar Anas di Jakarta beberapa waktu lalu. Menu­rutnya, dari silsilah tersebut terlihat jelas bahwa beberapa orang para Walisongo mempunyai keturunan Minangkabau.

“Tidak disangsikan lagi me­mang berasal dari Minang­kabau. Salah satu bukti konkret­nya ada makam Syekh Maulana Ma­lik Ibrahim di Kumpulan Bon­jol Pasaman, dan ada pene­mun titik sejarah Sultan Mah­mud di Lasem ini meru­pakan tin­dak lanjut dari penelitian se­belumnya di Sanrobone, Sula­wesi Selatan. Ini untuk meleng­ka­pi sejarah yang kosong 200 ta­hun di Sumbar,” ujar Hari.

Dijelaskan Hari, para Wali­songo yang diyakini mem­punyai ke­turunan Minangkabau itu Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik sampai Su­nan Giri. Itu menurut silsilah yang ada di keturunan salah satu pe­n­diri NU, yang mempunyai pe­ran besar dalam penyebaran aga­ma Islam di Pulau Jawa.

Jika ini benar, masyarakat Mi­nang harus berbangga de­ngan pe­ran raja-raja Minang­ka­bau yang mempunyai pera­nan pen­ting dalam penyebaran aga­ma Islam ke hampir seluruh pu­lau Jawa.

Pernyataan Hari dibenarkan cucu KH Ma’shum, yakni Mu­ham­­mad Zaim bin Ahmad. Me­nu­rut Zaim yang bisa dipanggil Gus Zaim, kakeknya merupakan ke­turanan dari Sultan Mahmud atau yang biasa dikenal masya­ra­kat Lasem dengan sebutan sul­tan Minangkabaui.

“Secara turun temurun mas­ya­rakat di Lasem mengakui Sul­tan Minangkabaui berasal dari Mi­nangkabau. Sultan Mahmud sing­gah di Lasem, dan menjadi mu­rid dari Sunan Bonang,” ujar Zaim.

Dalam silsilah yang disalin Zaim, juga tertulis keterkaitan antara Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gersik dengan Sultan Mahmud atau Sultan Mi­nang­kabaui.

Dijelaskan Zaim, dalam ba­bat La­sem berkembang di te­ngah mas­yarakat Lasem, Sultan Ma­h­mud berada di Lasem ka­rena ka­pal­nya terbelah saat akan ber­la­yar ke kawasan timur untuk per­gi be­la­jar. Saat tidak ada satu pun yang tersisa dari kapalnya, Sul­t­an Mah­mud yang ter­dampar ke da­rat bertemu dengan Sunan Bo­nang dan menemukan kitab mi­lik­nya sudah di tangan Sunan Bonang.

“Ada beberapa versi yang menyebutkan alasan kenapa Sultan Mahmud Al Minang­kabaui menjadi murid Sunan Bo­nang. Ada yang menyebutkan ka­rena Sunan Bonang yang me­nemukan kitab, dan ada yang me­nyebutkan kalau Sunan Bo­nang berhasil menjawab per­ta­nya­an Sultan Minangka­baui ter­ha­dap isi kitab tersebut,” lan­jutnya.

Ia juga menyebutkan, dide­kat makam Sultan Minang­kabaui ada makam lagi, dan itu dipercaya menjadi makamnya istri Sultan Minangkabaui. Gus Zaim juga mengaku sangat ter­san­jung jika memang babat La­sem tentang keterikatannya de­ngan Minangkabau terbukti. Apa­lagi salah satu keturunan Sul­tan Mahmud yakni Imam Bon­jol merupakan penyebar aga­ma Islam yang terpandang hing­ga Indonesia Timur.

“Jika diurut, saya menjadi ke­turunan kesembilan dari Sultan Mahmud. Saya ingin sekali men­cari kebenaran dari cerita ini,” tuturnya.

Pengakuan Gus Zaim dia­mi­ni peneliti LIPI, Erwiza Er­man. Menurutnya, mesti ma­sih me­merlukan penelitian yang lebih men­dalam tentang kesamaan sul­­tan Mahmud dengan Dato’ Mah­kota Alam. Namun bila di­urut berdasarkan tempat-tem­pat yang disinggahi, yakni jalur per­dagangan menuju timur itu mungkin saja terjadi, apalagi di bebe­rapa tempat tersebut dite­mu­kan jejak Sultan Mahmud.

“Lasem ada pelabuhan da­gang tua di Jawa, hampir semua pe­­dagang singgah di wilayah ter­s­e­but. Pedagang melalui daerah itu untuk menghindari pelabu­han Batavia yang saat itu dimo­nopoli portugis,” ujar Erwiza.

Dijelaskan Erwiza, untuk me­mas­tikan apakah Sultan Mah­­­mud itu benar yang berasal dari Mi­­nang­kabau, perlu dilaku­kan pe­ne­litian yang lebih men­dalam. Na­mun jika dilihat dari ma­kam Sul­tan Mahmud yang be­rada di atas bukit, ini menun­jukkan Sultan Mahmud tersebut merupa­kan orang penting.

“Kalau di Lasem, makam yang ada di atas merupakan di atas bukit merupakan orang pen­ting. Masyarakat menyakini ma­kam yang sebelah makam Sul­tan Minangkabaui meru­pakan makam Siti Aisyah yang dijemput sang patih,” jelasnya.

Saat ini, Erwiza masih me­ngum­pulkan data tidak saja dari perpustakaan nasional, tapi juga mencari dari arsip di luar negeri, tentang kisah perjalanan raja Minangkabau di abad 16 sulit ditemui catatan perjalanannya.

Sementara itu, tokoh Sum­bar, Azwar Anas menyampaikan ara­hannya terkait penelitian ter­sebut. Ia mendorong Hari Ikh­las bersama peneliti LIPI un­tuk menemukan rangkaian se­jarah Minang tersebut.

Semua ini kita kembalikan lagi kepada para ahlinya, tentu ahli sejarah.

>> http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=32547

Baca juga :

Posted on 25 Juli 2012, in Sejarah and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Mohon MAAF komentar yang mengandung link afiliasi, kalimat promosi, akan dihapus. Terima kasih

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: