Tak Tahan Kritik, Musdah Mulia Ancam Mahasiswi

Human Ilumination menggelar seminar perempuan tingkat nasional bertema “Adilkah Bangsa dan Agama Terhadapmu” di Gedung Mulo, Jl Sungai Saddang, Makassar, Senin (30/5) kemarin.

Pematerinya adalah Guru Besar Sosiologi Gender Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin (Unhas) Maria E Pandu, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif hidayatullah, Musda Mulia, Wakil LSM Indonesia Conference of Religions and Peace Sukma Mulia, dan Sekretaris Pemberdayaan Perempuan Pemerintah Provinsi Sulsel, Suciati.

Puluhan peserta hadir dalam seminar nasional ini. Rata-rata peserta adalah mahasiswi dari berbagai kampus di Kota Makassar. Juga terdapat anggota wanita dari Hisbut Tahrir dan akhwat Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Seminar berlangsung menegangkan karena diwarnai perdebatan dan hujatan dari peserta ke seorang pemateri Musdah Mulia.

Sebelumnya, Musdah Mulia didaulat sebagai pemateri oleh dua pemateri sebelumnya. Musdah dikenal sebagai profesor penerima nobel internasional tentang legalnya homoseksual. Peserta dari kalangan mahasiswi rata-rata satu suara mengkritisi pernyataan-pernyataan Musdah dianggap kontroversial. Suasana dalam ruangan layaknya unjuk rasa mahasiswi terhadap Musda.

Tak tahan dengan kritikan dari peserta, Musdah Mulia mengancam pidana pelecehan terhadap seorang mahasiswi Fakultas llmu Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas), Umi Kaltsum yang menjadi peserta seminar di Gedung Mulo.

Ancaman yang dilayangkan Musda yang Wakil LSM Indonesia Conference of Religions and Peace itu karena Umi Kaltsum dianggap melakukan kritikan yang tak berdasar atas pendapat-pendapatnya saat memberikan materi di seminar perempuan tingkat nasional bertema “Adilkah Bangsa dan Agama Terhadapmu.”

“Hati-hati yah kalau adik berkata-kata, saya bisa tuntut Anda pasal pelecehan jika Anda mengkritisi saya seperti itu. Anda ini kan mengambil data dari Sabili dan Suara Islam. Kedua majalah ini bukan bacaan kaum intelektual. Kedua majalah itu kerja cuma menghina orang,” kata Musdah yang profesor itu kepada Umi.

“Makanya baca dulu buku saya kalau mau berkomentar tentang saya. Jangan seenaknya aja mengkritik seperti itu,” tambahnya.

Sebelumnya Umi menuding Musdah adalah sosok kontroversial dalam Islam karena dianggap sebagai antek Amerika yang liberal setelah pernah meraih nobel Internasional Women of Courage dari Menteri Luar Negeri AS Condolezza Rice di Washinton pada 8 Maret 2007 lalu, dan ia mendapat hadiah Rp 6 miliar.

“Kawan-kawan sekalian, kita harus mempertanyakan sosok Prof. Musdah yang kontroversial ini. Ia adalah orang Amerika. Ia adalah pendukung Amerika yang liberal,” teriak seorang peserta yang mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas) angkatan 2006, Umi Kaltsum.

Musdah membuat draft Kompilasi Hukum Islam pada tahun 2004 yang isinya menyebutkan, pernikahan bukan ibadah, perempuan boleh menikahkan dirinya sendiri, poligami haram, boleh menikah beda agama, boleh kawin kontrak, ijab kabul bukan rukun nikah, dan anak kecil bebas memilih agamanya sendiri.

____________________________

Al Khaththath: Musdah Bukan Intelektual Juga

Kasus ancaman pidana Prof. Musdah Mulia dalam seminar perempuan tingkat nasional bertema “Adilkah Bangsa dan Agama Terhadapmu” di Gedung Mulo, Jl Sungai Saddang, Makassar, Senin (30/5) kemarin terhadap seorang mahasiswi berbuntut.

Setelah menggertak seorang mahasiswi peserta seminar yang mengkritisi dirinya dan menuduhnya sebagai antek Zionis dan Amerika, kini pihak Tabloid Suara Islam memberikan tanggapan atas pernyataannya yang menyatakan bahwa tabloid tersebut dan Sabili bukan merupakan bacaan kaum intelektual yang kerjaannya hanya menghina orang.

Sebelumnya seorang mahasiswi mengkritisinya dengan keras di tengah sesi seminar berlangsung.

“Kawan-kawan sekalian, kita harus mempertanyakan sosok Prof Musdah yang kontroversial ini. Ia adalah orang Amerika. Ia adalah pendukung Amerika yang liberal,” teriak seorang peserta yang mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas) angkatan 2006, Umi Kaltsum.

Tak tahan dengan kritikan dari peserta, Musdah Mulia mengancam pidana pelecehan terhadap seorang mahasiswi tersebut.

“Hati-hati yah kalau adik berkata-kata, saya bisa tuntut anda pasal pelecehan jika anda mengkritisi saya seperti itu. Anda ini kan mengambil data dari Sabili dan Suara Islam. Kedua majalah ini bukan bacaan kaum intelektual. Kedua majalah itu kerja cuma menghina orang,” kata Musdah yang profesor itu kepada Umi Kaltsum.

Atas pernyataannya tentang kedua media Islam tersebut, kuasa hukum Suara Islam, Munarman,  mengatakan bahwa hanya seperti itulah kadar intelektual profesor liberal itu. Menurut Munarman, antek Zionis yang mengaku intelektual itu ternyata anti kritik dan tak sanggup mempertahankan “intelektualitas”-nya, malah main ancam seperti penguasa preman.

“Inilah kualitas para antek antek zionis itu. Tiap detik dalam hidupnya kerjanya mengkritik ulama ulama besar Islam yang telah berkarya dengan ribuan halaman kitab ilmiah tanpa menggunakan metode ilmiah. Hanya atas dasar kebencian dan dendam pada kehidupan pribadinya di masa lalu dan sokongan dana dari tuannya,” ungkap Ketua Tim Advokasi FUI itu.

Munarman malah balik menuding bahwa Musdah sejatinya bukan seorang intelektual. Pasalnya jika Musdah tidak membaca SI tetapi berbicara bahwa data mahasiswi Unhas itu diambil dari SI, makin menunjukkan bahwa Musdah bukan seorang intelektual. Artinya Musdah menuduh tanpa membaca data secara langsung.

“Itu sama sekali bukan perbuatan seorang inteletual. Itu ciri-ciri preman intelektual,” tegas Direktur An Nashr Institute ini.

Sementara, lanjut Munarman, giliran kalangan mereka yang dikritik malah mengancam seperti preman. Tidak ada kata-kata yang santun dan teduh seperti yang mereka gembar-gemborkan selama ini.

“Jadi benar-benar nggak punya mutu intelektual-lah mereka ini. Hanya sekedar menjalankan program Zionis aja,” pungkasnya.

Sementara pemimpin umum Suara Islam, KH Muhammad Al Khaththath menanggapi santai ucapan Musdah di atas. Menurut Al Khaththath, kalau Musdah tahu mahasiswi Unhas itu membaca Sabili dan Suara Islam, artinya Musdah juga turut membaca kedua media Islam itu.

“Berarti Musdah bukan intelektual juga dong? Kan dia sendiri yang bilang SI (Suara Islam – red) bukan bacaan intelektual?”

.

Baca juga :

Posted on 27 Juli 2012, in Kontroversi and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Mohon MAAF komentar yang mengandung link afiliasi, kalimat promosi, akan dihapus. Terima kasih

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: