Ustadz Abu Bakar Ba’asyir : Tidak Diberi Makan dan Dilarang Shalat

Sebuah situs memberitakan, ustadz Ba’asyir menceritakan kronologis dirinya dipindah mendadak secara paksa oleh aparat.

Ia menuturkan, pada Jum’at (5/10/2012) malam saat dirinya sedang tidur lalu dibangunkan petugas. “Saya dibangunkan, katanya ada jaksa, terus saya bangun nemui jaksa, jadi diberitahu jam 9 malam, jam 10.45 WIB malam berangkat,” kata amir Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) itu di hadapan rombong pembesuk.

…Makan tidak ada, hanya dikasih roti saja sama minuman

Saat itu ustadz Abu Bakar Ba’asyir marah lantaran kepindahannya itu begitu mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya, sehingga ia tak mempersiapkan diri dan tak sempat mengemasi barang-barangnya. “memindahkan orang kok seenaknya,” ujarnya kesal.

Berangkat dari Rutan Bareskrim Mabes Polri, ustadz Ba’asyir lalu dibawa ke Mako Brimob, Kelapa Dua Depok.

“Terus dibawa ke Mako Brimob Kelapa Dua Depok. Mau naik pesawat tapi katanya pesawatnya rusak. Akhirnya naik mobil saja, dari Mako Brimob Depok jam 12.00 WIB malam, sampai sini (Cilacap, red.) jam 09.00 WIB pagi lalu masuk ke LP Batu Nusakambangan  jam 13.00 WIB siang,” jelasnya.

Betapa kejamnya Densus 88, ustadz Ba’asyir yang sudah lanjut usia itu benar-benar dipindahkan melalui jalan darat dengan menempuh waktu lebih dari 18 jam tanpa diberi makan, kecuali sepotong roti. “Makan tidak ada, hanya dikasih roti saja sama minuman,” ucapnya.

…Tidak ada istirahat, paling hanya buang air kecil saja. Malah shalat shubuh saja tidak diizinkan, terus saya marah-marah di mobil.

Bahkan, lebih zalim lagi, dalam perjalanan nonstop tanpa istirahat itu, ustadz Abu Bakar Ba’asyir dilarang shalat oleh Densus 88.

“Tidak ada istirahat, paling hanya buang air kecil saja. Malah shalat shubuh saja tidak diizinkan, terus saya marah-marah di mobil. Jadi mobil itu tidak berhenti, saya sudah bilang; “ini sudah shubuh, mampir dulu ke masjid!” dia bilang; tidak pak. Lalu saya marah-marah; kurang ajar! Ini negara kafir, kalian juga kafir! Ini shalat, lebih dari nyawa! Lalu diam saja polisinya. Saya akhirnya shalat di dalam mobil, habis bagaimana lagi?” ungkapnya.

Kemarahan ustadz Abu Bakar Ba’asyir memuncak diperlakukan dengan zalim, tak manusiawi dan melanggar kebebasan beribadah, ia pun bermaksud menemui komandan Densus 88 yang mengantarnya. “Mana komandanmu? saya mau ketemu!” tanyanya dengan nada marah.

Namun Densus 88 mengabaikannya dan ustadz Abu Bakar Ba’asyir langsung diantar memasuki sel di LP Batu Nusakambangan. [Ahmed Widad] voaislam.com Selasa, 09 Oct 2012

***

Demi naik pangkat?

Sejarah perjuangan kemerdekaan telah mengorbankan nyawa para ulama, kyai, dan Ummat Islam pada umumnya. Orang-orang kafir yang selama masa penjajahan Belanda dianak emaskan tentu saja sama sekali tidak gigih untuk meraih kemerdekaan dengan tetesan darah sebagaimana Ummat Islam. Karena perjuangannya adalah mengusir penjajah kafir dengan pekik kalimah Allah yakni Allahu Akbar!

Anehnya, setelah merdeka, justru dalam kenyataan misi kafir lah yang dijadikan rujukan dan diterapkan untuk menghalangi Ummat Islam. Petugas resmi pun  sampai menghalangi ibadah.  Padahal ibadah itu adalah inti keyakinan itu dilindungi oleh konstitusi.  Sehingga seakan perannya bukan menjalankan konstitusi tetapi misi kekafiran dalam menghalangi Islam.

Tidak jarang kalau sudah terbukti menghalangi Islam maka akan naik pangkat. Makanya orang yang berani menikah-nikahkan wanita muslimah dengan lelaki kafir (padahal tu jelas diharamkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Mumtahanah/60: 10) justru kini diangkat jadi dekan di Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta. Juga yang jelas-jelas menghujat Kitab Hadis Shahih Bukhari, kitab paling shahih seteah Al-Qur’an, justru kini diangkat jadi rector IAIN Walisongo Semarang.

Apakah menghalangi seseorang untuk shalat itu juga demi naik pangkat? Wallahu a’lam!

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا فِيهَا وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنْفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (123) وَإِذَا جَاءَتْهُمْ آيَةٌ قَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ حَتَّى نُؤْتَى مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللَّهِ اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ [الأنعام : 123 ، 124]

123. Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.

124. apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: “Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah”. Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya. (QS Al-An’am 123, 124).

(nahimunar.com)

.

Baca juga :

Posted on 17 Oktober 2012, in Harus Anda Ketahui and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Mohon MAAF komentar yang mengandung link afiliasi, kalimat promosi, akan dihapus. Terima kasih

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: