Kisah Nyata: Kisah DiBalik Lagu Oppa Gangnam Style Terbongkar

GangnamSECEBIS CERITA DUKA DARI GANGNAM. Malam tadi setelah keluar dari masjid seusai selesai solat Isyak di masjid dekat dengan rumah, saya berjalan kaki seorang diri pergi ke sebuah kedai makan untuk makan malam. Pengunjung di kedai makan yang saya tuju itu agak ramai dan boleh dikatakan hampir kebanyakan meja di kedai tersebut sudah penuh.

Saya memilih untuk duduk di salah sebuah meja di bagian paling ujung seorang diri yang ketika itu tiada orang di meja tersebut. Tak lama pelayan datang saya pun memesan makanan yang saya mau. Selepas beberapa saat ketika pelayan tersebut pergi datanglah pula seorang gadis muda berkulit cerah berjubah dan bertudung hitam gaya wanita Arab ke meja saya seraya bertanya,

“Tuan, boleh saya duduk di sini..? anda lihat, tempat-tempat di meja lain semua sudah penuh..”

“Oh, ok.. tak mengapa. Silakan duduk..” jawab saya agak terkejut dengan sapaan gadis itu. Percakapan kami dalam bahasa Inggris.

Kemudian pelayan datang kepadanya dan dia hanya memesan ‘fresh orange’ untuk minuman. Tak lama setalah pelayan pergi saya memberanikan diri bertanya kepadanya dengan rasa aneh, “Kamu seorang diri saja? Dan kamu kelihatan bukan orang Malaysia, bukan?”

Dia mengangkat wajahnya dari telepon pintarnya ke arah saya lalu menjawab dengan tersenyum, “Oh saya dari Korea Selatan, dan saya ingin ke rumah seorang kawan..”

“Oh Korea Selatan.. sekarang negara itu sedang ‘famous’ dengan tarian Gangnam Style..” jawab saya spontan saja sambil tersenyum dan menganguk-angguk sendirian tatkala mata gadis itu kembali ke telepon pintarnya sambil menggerak-gerakkan jarinya di atas layar sentuh dan kadang dia juga tersenyum sendiri melayani perakapan dari telefon pintarnya.

“Gangnam Style..? Apa yang kamu tahu tentangnya..? ia tarian yang dilaknat Tuhan. Saya menganggapnya di ilhamkan oleh Iblis kepada artis itu.” jawabnya dengan nada yang tegas dan berani.

“Oh ok ok, minta maaf.. saya tak bermaksud menyinggung perasaan kamu..” jawab saya serta-merta.

Percakapan terhenti beberapa saat. Selepas kira-kira 15-20 menit pelayan kembali datang dengan membawa pesanan saya dan minuman gadis itu.
“Kamu mau tahu apa yang saya tahu tentang Gangnam?” tanya gadis kembali itu kepada saya.

“Jika kamu berminat untuk bercerita kepada saya, saya akan mendengarnya…” jawab saya dengan tenang sambil mula menghirup jus tembikai susu yang saya pesan.

“Ok sebentar beberapa menit, setelah saya membalas mesej-mesej ini..” jawabnya sambil jari-jemarinya ligat bermain di dada skrin telepon pintarnya.
Saya hanya mengangguk-angguk sambil mengangkat kening dan kembali menyuap makanan dengan sendok ke dalam mulut walaupun saya sedar bahwa memakan dengan menggunakan tangan itu lebih menepati Sunnah Rasulullah SAW.

“Baik, sekarang saya akan bercerita tentangnya.. ia sesuatu yang menarik tetapi aneh dan menakutkan.” kata gadis itu kembali.

“Ok, seakan-akan ada satu perkara besar yang kamu ingin sampaikan kepada saya.” jawab saya kembali sambil mulut mengunyah nasi.

Kemudian dia diam kira-kira beberapa saat, mengambil nafas lalu memulai ceritanya kepada saya,

“Di Gangnam ada satu pertandingan aneh yang diadakan untuk gadis-gadis muda untuk menjadi perempuan-perempuan simpanan bagi orang-orang kaya dan para jutawan. Kebanyakan gadis muda yang menyertai pertandingan tersebut adalah mereka yang ingin mencoba nasib setelah gagal mendapat tempat dalam pekerjaan atau terlalu teruja untuk menikmati hidup mewah bersama orang-orang kaya… mereka dijanjikan dengan hadiah yang sangat lumayan, kereta mewah, jet peribadi dan rumah besar seperti istana dengan kolam renang jika memenangi pertandingan tersebut.”

Kemudian dia diam lagi… kali ini dia pula meminum minuman ‘fresh orange’.. dia diam dengan agak lama tanpa berkata apa-apa.

“Ok, kemudian..?” tukas saya lagi ingin tahu.

“Oh, ia sesuatu yang amat dahsyat dan keji dan saya hampir tidak mau menceritakannya kepada kamu. Tapi saya akan coba ceritakannya juga agar kamu dapat tahu apa kisah benar yang berlaku..” sambungnya lagi.

“Iya, sila sambung lagi… saya memang ingin tahu tentangnya.” balas saya lagi.
“Ok… Pertandingan itu, untuk sampai ke tempat pertandingan tersebut, para peserta yang terdiri dari perempuan-perempuan muda yang cantik masing-masing dikehendaki menunggung seekor kuda kira-kira 500 meter dari tempat para peserta berkumpul ke tempat pertandingan yang merupakan sebuah istana besar dan mewah milik seorang jutawan di Gangnam. Kamu bayangkan, mereka semuanya menunggang kuda dengan memakai sepatu hak tinggi, baju jarang dan skirt singkat (pakaian bagian dada terbuka) yang seksi sambil diiringi pihak pengawal pertandingan dengan helikopter..”

“Setelah sampai di sana mereka disambut oleh pihak pengawal di istana itu dan dibagikan kepada dua kumpulan. Setiap kumpulan akan melalui dua laluan yang berbeda. Pertandingannya ialah laluan berhalangan untuk sampai ke destinasi yang terakhir. Ia seperti pertandingan dalam rancangan ‘Wipe Out’ di dalam TV jika kamu pernah melihatnya. Setelah sampai di destinasi terakhir pula, para peserta yang berjaya dari dua kumpulan itu akan bertarung pula sesama sendiri. Jika pihak lawan tewas maka peserta yang masih bertahan akan dianggap sebagai pemenang dan mendapat uang bernilai jutaan USD. Laluan berhalangan itu sangat berbahaya, namun para peserta hanya melakukannya dengan memakai sepatu hak tinggi dan pakaian seksi mereka sambil disaksikan dan disorak oleh para jutawan yang melihat aksi-aksi mereka tersebut dari sebuah ruang balkoni bilik mewah di istana tersebut. Saya tidak pasti itu dirakam atau tidak.”

Terus-terang, ini adalah pertandingan bunuh diri yang paling gila…”

“Ok, kemudian.. apa yang terjadi?” tanya saya mencelah dengan rasa ingin tau.

“Satu ketika di salah satu trek, para peserta dikehendaki memanjat palang-palang besi untuk melintasi salah sebuah menara di istana tersebut, palang tersebut sangat tinggi dan di bawahnya ada kolam renang. Di satu sudut yang lain, para jutawan pula menyaksikan aksi-aksi peserta dari dalam sebuah bilik mewah sambil menikmati hidangan dan minuman arak yang mahal bersama gadis-gadis mereka.”

“Banyak perserta ketika itu yang terjatuh ke bawah ketika coba memanjat palang-palang besi tersebut. Ada yang terhempas ke lantai dan kepalanya pecah. Ada yang patah tangan dan kaki. Ada yang pecah badannya. Kolam renang tersebut penuh dengan darah dan ada yang mati lemas ketika jatuh ke dalamnya setelah gagal untuk berenang keluar dari kolam renang yang dalam tersebut. Mereka semua para gadis yang tidak berupaya dan mereka sangat kasihan.”

“Yang lebih keji dari itu, mereka yang celaka ketika itu tidak dibantu.. malah dibiarkan saja untuk disorak dan ditertawakan oleh para jutawan yang melihat mereka sepanjang pertandingan. Akhirnya apa yang saya tahu, hanya dua orang gadis saja yang berjaya melalui laluan itu dari keseluruhan 30 orang gadis yang menyertainya… saya dikabarkan walaupun dua gadis itu akhirnya berjaya, mereka kini hidup dengan trauma dan penuh ketakutan di sisi para jutawan gila tersebut. Mereka kini hidup seperti hamba di dalam istana zaman purba. Tiada tamadun (beradab) dan tiada akhlak… hanya menjadi hamba suruhan lelaki-lelaki kaya yang merantai hidup mereka saja. Lebih malang lagi gadis-gadis yang sudah terjerumus ke sana tidak boleh lari dari golongan kaya gila itu. Jika coba untuk lari kemungkinan mereka akan dibunuh.”

Sampai di sini tiba-tiba gadis itu terisak… wajahnya berubah dan air matanya serta-merta mengalir laju dan menangis teresak-esak.

Saya sudah tentu sangat terkejut dengan perubahannya secara tiba-tiba itu, dan coba memujuknya,

“Hey, please don’t cry here… people will look to us. Please calm down. I’m sorry so much to make you telling me this story…” kata saya kepadanya perlahan dengan suara berbisik.

Namun saya membiarkannya dengan keadaannya itu untuk beberapa saat. Kemudian saya berkata kepadanya, “Saya tak tahu apa sebenarnya yang membuat kamu menangis, tapi saya minta maaf banyak-banyak kerana disebabkan saya kamu menangis. Sebenarnya saya sangat terkejut mendengar cerita kamu. Ini sesuatu yang sangat dahsyat yang belum pernah saya mendengarnya sebelum ini..”

Ia ok… ia ok… ia ok… (sambil mengesat air matanya dengan sapu tangan miliknya)… maafkan saya kerana tiba-tiba bersikap aneh tadi. Kamu tahu, salah seorang gadis yang mati kerana pecah badannya ketika jatuh di pinggir lantai kolam renang itu ialah adik perempuan saya sendiri… Ibu saya bunuh diri kerananya dan bapa saya menjadi gila. Setelah ibu saya bunuh diri bapa saya sakit selama berbulan-bulan lalu akhirnya meninggal dunia.”

Pada waktu ini dia kembali diam beberapa menit… saya pula tergumam dan tidak terkata apa-apa… setelah itu dia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menyambung kembali kisahnya,

“Ibu-bapa saya hanya memiliki dua orang anak perempuan dan adik saya sudah menjadi mangsa nafsu gila orang-orang kaya Korea.”

“Sejurus selepas tamat pertandingan tersebut, saya dihubungi seorang wanita yang memberitahu bahwa adik saya telah pengsan dan cedera parah kerana kemalangan dan saya diharuskan ke hospital untuk melihatnya. Wanita itu menyatakan dia mendapat nomor telepon saya dari adik saya. Setelah saya dan ibu-bapa saya tiba ke hospital, kami dikabarkan adik saya telah meninggal dunia. Saya memarahi wanita tersebut dan mendesaknya bertubi-tubi untuk menceritakan kisah sebenar kepada saya… dan akhirnya selepas beberapa hari dia menceritakan keseluruhan kisah ini kepada saya. Setelah tahu kisah sebenarnya, kami sekeluarga menangis macam orang gila kerana tidak pernah menyangka adik saya sanggup mengikuti pertandingan gila tersebut hanya untuk hidup mewah sebagai gadis simpanan orang-orang kaya. Namun wanita itu berkata ia adalah pilihan adik saya sendiri.”

“Beberapa minggu kemudian ibu saya bunuh diri satu malam dengan menelan aspirin sebanyak 200 biji. Keesokan harinya ibu saya koma dan setelah saya dan bapa menghantarnya ke hospital, pada malam harinya dia meninggal dunia. Bapa saya pula selepas itu sakit jiwa sebelum mengalami sakit tenat (sangat lelah) yang membawanya meninggal dunia. Saya pula hidup tidak menentu dan mujurlah masih mempunyai seorang sahabat wanita beragama Islam yang terus berjuang agar saya dapat meneruskan kehidupan dengan tabah. Berulang-ulang kali dia mengingatkan kepada saya bahwa kehidupan ini adalah anugerah Tuhan dan orang yang beriman tidak akan berputus asa.”

“Dan kerana itu saya melihat kamu kini sebagai seorang Muslimah..?” saya mencelah ceritanya.

“Alhamdulillah, terima kasih kepada Tuhan. Sahabat saya itu telah membawa saya berjumpa dengan seorang imam di kota Seoul untuk memulihkan semangat hidup saya. Imam itu mula bercerita kepada saya tentang Allah, Islam dan Nabi Muhammad. Saya menerima segala ajarannya dengan lapang hati seakan-akan ia satu-satunya pilihan yang ada. Benar, Islam adalah satu cahaya yang sangat terang seperti matahari dan mendamaikan seperti bulan purnama yang kembali menyuluh seluruh hidup saya dan saya terus berubah kepada agama ini tanpa ragu-ragu. Dan kamu tahu tak, jiwa saya berasa sangat-sangat tenang dan damai ketika mendengar ayat-ayat Al-Quran yang berkumandang di ibu pejabat markaz Islam di kota Seoul. Imam itu salah seorang ahli pengurusnya. Saya tidak pernah mendengar musik-musik yang sangat indah seperti ayat-ayat Al-Quran sebelum ini dalam hidup saya.”

Kini suara gadis itu kembali gagah seraya berkata, “Alhamdulillah, saya bersyukur kerana diselamatkan Tuhan dan kembali dihidupkan semula sebagai seorang Islam setelah saya kehilangan segala-galanya akibat kekeringan jiwa masyarakat dunia terutama masyarakat Korea yang hidup sesat tanpa agama. Mereka semua telah sesat tanpa panduan hidup yang benar daripada Tuhan.”
Setelah itu dia diam dan meminum minumannya…

“Kisah kamu amat menarik tetapi menakutkan. Adakah kamu sudah mengambil tindakan undang-undang bagi pihak adik kamu, atau melaporkannya kepada media atau berbuat sesuatu?” ujar saya kembali kepadanya.

“Lupakan sajalah, saya sudah melaporkannya kepada pihak polisi, sudah menceritakannya kepada beberapa orang wartawan dan melaporkannya secara bersumpah kepada beberapa orang peguam (pengacara; advokat). Pihak polisi enggan melakukan pendakwaan kerana tiada bukti-bukti yang kukuh mengenainya. Tiada video dan tiada saksi-saksi lain yang mau tampil kepada pihak berkuasa selain saya. Mungkin ada namun ia tidak memadai.

Wanita yang membawa adik saya ke hospital itu juga sudah menghilangkan diri. Saya coba menghubungi nomor telefon selulernya berali-kali namun dia tidak dapat dihubungi. Kali terakhir saya mendengar tentangnya melalui seorang peguam (pengacara; advokat) yang mendapat kabarnya dari seorang detektif polisi ialah dia sudah meninggal dunia akibat kecelakaan. Para peguam lain dan wartawan yang saya ceritakan kisah ini kepada mereka kesemuanya telah diancam untuk tidak membukanya kepada umum. Mungkin begitu juga yang terjadi kepada korban-korban yang lain. Laporan polisi di sana pula menyatakan gadis-gadis yang meninggal dunia akibat cedera parah itu adalah kerana rabung palang-palang besi di istana itu roboh ke bawah ketika mereka semua sedang berada di atasnya kerana ketika pihak polisi sampai di sana palang-palang besi itu sudah dirobohkan.

Manakala korban-korban yang masih hidup setelah kecelakaan masih mengalami trauma yang dahsyat dan ada yang cacat seumur hidup walaupun mereka mendapat bayaran ganti rugi insurans yang banyak. Apa yang saya tahu mereka semuanya diancam akan dibunuh jika membuka peristiwa sebenarnya kepada pihak polisi. Yang pasti di sana wujud monster-monster besar yang menutupi kes ini termasuk menteri-menteri kerajaan… ini berkaitan dengan uang dan kuasa. Dan sudah tentu kamu tahu apa yang uang dan kuasa boleh buat pada kita.” jawabnya lagi dengan panjang lebar yang sarat dengan hujah.

“Oh, ok… ianya sesuatu yang gila pernah saya dengar. Jadi sekarang berapa umur kamu dan mengapa kamu berada di Malaysia? Dan… apa yang kamu sedang buat di Malaysia sekarang? Dan lagi… bilakah peristiwa sedih itu terjadi?” tanya saya bertubi-tubi kepadanya dengan rasa ingin lebih tahu.
“Kamu tebak saya berumur berapa…?”

“Saya tidak mau menebak dan saya tidak tahu berapa umur kamu.”

“Kisah sedih itu hanya berlaku pada tahun lepas, dan saya tidak mau sebut apa bulan dan harinya. Cukuplah kamu tahu ini terjadi pada tahun lepas. Kini saya berumur 29 tahun dan saya berada di Malaysia kerana ingin coba mendaftar kursus bahasa Arab di ******* University dengan sahabat wanita Muslimah saya dari Korea itu. Tadi saya bertemu-janji dengannya untuk bertemu di sini. Kami rakan serumah dan dia tadi menziarahi rakan kami orang Malaysia di kawasan ini. Saya sampai ke sini lewat sedikit dengan taksi.” jawabnya berterus-terang dengan nada jujur.

“Oh, kamu sungguh berani. Di Malaysia tidak banyak wanita yang berani naik taksi seorang diri pada waktu malam. Terima kasih kerana menceritakan kisah ini kepada saya.. saya amat menghargainya dan mudah-mudahan suatu hari Allah akan membalas dendam untuk kamu dan korban-korban lain yang telah teraniaya…” kata saya lagi kepadanya sambil mengangguk-angguk.

“Sudah tentu…! Suatu hari nanti semua orang dan dunia akan tahu mengenai kejahatan tersembunyi di Bandar (kota) Gangnam yang dilaknat itu!” tukasnya dengan nada yang keras.

“Kamu ingat artis yang membuat lagu Gangnam gila itu menyukai cara hidup bandar Gangnam..? Saya rasa dia amat sinis tentangnya dan dia pernah berasa tertekan dengan cara hidup di sana.. namun kini dia sudah menjadi bagian daripada mereka. Semoga Tuhan melaknat mereka semua. Saya menyerahkan kepada Tuhan untuk membalas segala kejahatan mereka.”

“Whoa… kamu nampaknya sangat marah dengan Gangnam…” balas saya sambil mengangkat kedua-dua kening dan menyedot jus tembikai susu yang masih berbaki menggunakan straw.

“Oh, jangan kamu berpura-pura seperti tiada perasaan dan tidak mempunyai perikemanusiaan..” balasnya pantas kepada saya.

“Tidak, tidak… saya benar-benar terkejut dan simpati dengan kisah kamu. Bahkan dibalik itu, saya dapat melihat kamu seorang yang tabah, kuat dan berani.” balas saya kembali untuk menenangkannya.

“Oh ya, adakah kamu datang ke sini dengan biaya sendiri? Bagaimana dengan suami kamu dan kerja kamu di Korea?” tanya saya kepadanya dengan meneka-neka.

“Hahaha, saya masih belum bersuami dan saya telah menjual segala apa yang saya ada di Korea untuk datang ke sini. Saya mau belajar bahasa Arab di sini dan merancang mau ke Mesir atau ke Islamic Center di Chicago selepas ini untuk belajar lebih banyak tentang Islam di sana. Kamu juga tahu, Timur Tengah kini tidak stabil dan saya masih ragu-ragu untuk ke Timur Tengah. Imam yang mengislamkan saya itu pernah memberitahu saya bahwa dahulunya dia belajar bahasa Arab dan agama Islam di Syria di sebuah universiti yang namanya An-Nur.” jawabnya dengan reaksi yang kembali ceria sambil tersenyum.

“Oh dulu saya juga pernah belajar di Syria, dan universiti itu namanya Universiti Abu Nur.” jawab saya.

“Oh benarkah? Ceritakan kepada saya tentang Syria… saya bertuah bertemu dengan kamu.” tukasnya teruja dengan muka yang sangat gembira.

Sesampainya di sini percakapan kami mulai bertukar topik kepada isu Syria dan pergolakan di Timur Tengah serta topik-topik lain yang sudah tiada kena-mengena dengan Gangnam. Saya juga bercerita sedikit sebanyak tentang latar belakang diri saya kepadanya sebagai membalas kisah hidupnya yang telah dia ceritakan kepada saya.

Lama juga kami bersembang sejak jam 9.00 malam tadi. Kira-kira jam 10.30 malam rakan gadis itu datang ke kawasan kedai tersebut dan gadis itu meminta izin untuk pergi. Dia membayar segala pesanan makanan saya dan memperkenalkan dirinya sebagai Sofiyyah dan rakannya bernama Nadiah. Katanya nama mereka berdua diberikan oleh imam yang mengislamkan mereka di bandar Seoul merangkap guru murabbi mereka di Korea Selatan. Saya pula beruntung kerana makan malam saya ada orang belanja.

Kedua-dua mereka pernah lahir sebagai manusia yang tidak pernah menganut sebarang agama di Korea namun kini Allah telah memuliakan mereka dengan agama Islam yang suci. Saya tidak tahu sejauh mana kebenaran cerita Sofiyyah tentang kisah yang berlaku kepada adiknya di Gangnam. Kebenaran kisah tersebut saya serahkannya bulat-bulat kepada Allah. Namun saya berminat untuk kongsikan kisah ini kepada para pembaca agar para pembaca dapat membuat penilaian sendiri. Kisah tersebut mungkin benar dan mungkin tidak benar. Namun, di sebalik kisah yang saya pindahkan daripada Sofiyyah ini, dapatlah kita mengetahui sesuatu dan menjadikannya sebagai pengajaran.

Apa yang saya suka kongsi satu iktibarnya ialah, saya melihat betapa Sofiyyah amat bersyukur dan menghargai nikmat Islam yang dikurniakan Allah kepadanya. Dia sanggup meninggalkan negerinya dan menjual segala hartanya demi mempelajari bahasa Arab di bumi Malaysia bagi memahami Al-Quran, malah dia bercita-cita untuk terus mengembara bagi mempelajari ilmu-ilmu Islam dan menjadi seorang pendakwah Muslimah di negara Korea untuk Islamkan lebih ramai penduduk Korea.

Dia seorang yang amat berani, tabah dan cekal. Lihat saja, bagaimana dia seorang diri berani menyapa seorang lelaki asing seperti saya di awal kisah tadi. Apa yang saya lihat padanya, tiada sebarang ketakutan di dalam dirinya dan harapan hidupnya telah seratus-peratus diserahkan kepada Allah. Dia telah menjual seluruh jiwa dan raganya hanya kepada Allah semata-mata. Di sebalik kekuatan dirinya sekarang, saya juga yakin di belakangnya ada seorang murabbi mursyid yang hebat, iaitu sang imam yang telah mengislamkannya.

Biasanya dibalik orang-orang yang hebat, di belakang mereka sudah tentu ada para pendidik yang jauh lebih hebat lagi. Di dalam hati saya berkata sudah tentu peribadi sang imam itu lebih hebat lagi kerana berjaya membaiki diri Sofiyyah menjadi lebih kuat sepertimana sekarang. Ia bukanlah sesuatu yang mudah untuk memulihkan, mendidik dan membangunkan jiwa manusia yang sudah rosak teruk seperti Sofiyyah dan menjadikannya seorang srikandi yang gagah perkasa jiwanya.

Sepanjang berjalan kaki pulang ke rumah, saya banyak tertanya-tanya di dalam hati betapa kita ini begitu leka dan tidak bersyukur dengan nikmat beragama Islam yang telah Allah anugerahkan kepada kita sejak kita dilahirkan ke alam dunia.

Di dalam hati saya sepanjang pulang, “Allahu Rabbi…. alhmdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.” Sambil kaki saya sekali-sekala menyepak batu-batu kecil di jalanan dan kedua-dua tangan dimasukkan ke dalam poket jubah putih kiri dan kanan seraya muka menunduk ke arah tanah…

Sehingga saat ini saya masih tetap berfikir sendirian, kisah Sofiyyah ini ialah apa yang saya dengar berlaku di negara Korea yang maju.. bagaimana pula dengan kisah-kisah gelap seperti kisah gadis-gadis Melayu Islam yang menjadi pelacur kelas atas di negara kita. Sudah tentu banyak juga kisah-kisah gelap yang tidak pernah kita dengar tentang mereka. Sebelum ini saya pernah juga mendengar mengenai kisah-kisah kongsi gelap di negara kita yang dilindungi oleh orang-orang besar.

Allahu Allah, betapa teruknya manusia menjadi hamba uang dan kuasa pada zaman ini… Ya Allah, selamatkanlah kami di dunia dan di akhirat…
[Kisah nyata ini selesai ditulis : hari Ahad, 07 Oktober 2012, 10.55 AM]
http://busuk.org/ping/view/342227

Baca juga :

Posted on 8 Desember 2012, in Harus Anda Ketahui and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 19 Komentar.

  1. Saya baru tahu dibalik Gangnam Style..
    Saya share ya..

  2. anda itu betul betul seorang muslim yang bejat, menceritakan kisah2 palsu dengan men agung2kan agama anda sendiri, namun ternyata agama anda lebih bejat lagi, jika berani coba beritakan pada wartawan, dasar manusia goblok

    • anda yg betul2 bejat, datang2 uring2an marah2 kayak wong gendeng, dasar wong edan, gak tau tatakrama.
      bodoh lu, gak baca apa sumbernya !!!

      men agung2kan agama anda sendiri, namun ternyata agama anda lebih bejat lagi, dasar manusia goblok

  3. Wah ini banyak yang belum tahu Kak, ijinkan saya share ya. Agar saudara-saudara kita terutama sesama Muslim tahu dan nggak lagi ikut-ikutan berGangnam Style.

  4. Hoax ini boss,, sebagian benar, tp itu cuma dikait-kaitkan aja. Misal, ada kejadian ky gt di Jakarta, trs ada penyanyi yg buat lagu ttg Jakarta. kn itu sbener’a g ada hubungan’a,, kasus kriminal misal’a, dKaitkan ama sebuah lagu yg maksud’a utk menunjukkan daerah/kota tsb. (masih misal) ada org yg mungkin korban atau tau sisi lain kota Jakarta, trs dia jd g suka ama lagu” ttg Jakarta yg dlm lirik’a mungkin menyebutkan kalo Jakarta adalah kota yg keren. Gt lho boss.. Itu sbener’a cuma kisah kebencian seseorang ama sisi lain tempat tinggal’a ato daerah’a, bukan tentang lagu’a.

  5. Ya bnar tu gua ngk tau tu asli atau palsu cuma ih ngeri bgt negara udah maju kyk gitu ih serem setau gua kalau ngak salah org korea itu dibolehin pilih agama sendiri trus kalau mreka anak ultah hadiahnya itu bukan kyk mobil rumah dll hadiah yg paling diharapkan itu izin operasi plastik ih memang negara yg aneh tapi ya udahlah gua yakin semaju apapun negara itu pasti ada sisi gelapnya kok CUMA SEKEDAR PENEMBAH INFO YA MAAF KLAU GAJE NICeBLOG

  6. Baru tau kalo di gagnam tuh gitu….?
    Aku pikir di korea itu makmur soalnyakan budayanya “kpop” dah terkenal, rakyatnya tertib ekh ternyata gitu…….!
    Makasih ya infonya😀 ya….walau agak tersinggung sih, soalnya saya kpopers….

  7. Kasian banget cewe nya
    Ada yg sampai pecah kepala

  8. wah saya nggak nyangka ada ya manusia sebejat itu, nggak punya hati… kemana hatinya ya??
    nauzubillah,, astaqfirullah…
    izin share ya thor
    artikelnya menambah wawasan kita..

  9. wahhh ijin baca di kosan gan,, kayaknya menarik nih untuk disimak,,

  10. gini kok dipercaya … heran saya … ini kan cerita lepas, jangan membiasakan menyebar cerita ginian deh. Gangnam itu BUKAN KOTA, itu hanya salah satu distrik yang membentuk kota Seoul, sama dengan Surabaya dibentuk oleh beberapa kecamatan

    ibarat saya bilang kalau di ada KOTA NAMANYA KENJERAN di Surabaya, dan saya ngaku orang surabaya ?? orang surabaya

    masak yang katanyaaaa orang Korea asli nggak ngerti ?? mencurigakan

  11. walaupun agak tidak masuk akal sih, tapi aku apresiated sama ceritanya.
    bagus. kenapa gak dibuat novel sekalian????

  12. walaupun agak tidak masuk akal sih, tapi aku apresiate sama ceritanya.
    bagus. kenapa gak dibuat novel sekalian????

Mohon MAAF komentar yang mengandung link afiliasi, kalimat promosi, akan dihapus. Terima kasih

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: